#011 – Kaca Jendela yang Pecah

Suasana di SMA Sang Pemimpi masih ramai padahal maghrib akan menjelang. Sekolah itu masih “dihuni” oleh siswa-siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan sepak bola. Anak-anak pramuka sedang berlatih membuat tandu di lapangan voli dan anak-anak sepak bola sudah jelas sedang bermain bola di lapangan bola yang ada di sekolah tersebut. Keduanya lapangan itu tampak penuh dengan kegiatan masing-masing ekstrakurikuler.

Tidak jauh dari kedua lapangan itu ada sebuah ruang kelas. Itu adalah kelas XII A1. Ternyata ruang kelas itu belum kosong, masih ada orang di dalamnya. Jimron yang sedang piket ketika itu masih berada di kelas XII A1 untuk membersihkan kelas. Ya, hanya Jimron sendirian. Anggota piket yang lainnya sudah pulang meninggalkan Jimron. Ia membersihkan debu-debu yang ada di kaca jendela kelasnya. Semua jendela kelasnya tidak berterali sehingga tidak terlalu sulit untuk membersihkan jendelanya dari dalam kelas.

Anak-anak pramuka masih asyik dengan latihan membuat tandu yang dipimpin oleh Ikal. Ikal juga siswa SMA Sang Pemimpi. Ia sudah mengikuti kegiatan pramuka sejak SD sehingga ia dipercaya untuk melatih adik-adik pramukanya.

Kebahagiaan masih terlihat di wajah-wajah siswa yang sedang bermain sepak bola. Tidak tampak raut wajah lelah sedikit pun karena mereka sedang memainkan olahraga kegemaran mereka. Lelah bukan halangan bagi mereka untuk bermain sepak bola. Tim sepak bola SMA Sang Pemimpi dipimpin oleh Arai sebagai kapten. Arai memang pemain sepak bola yang berbakat. Ia pernah menjadi wakil provinsi dalam ajang pertandingan sepak bola nasional. Keahliannya menggiring bola membuat kagum semua mata yang memandangnya. Benar-benar anak yang luar biasa.

Arai menendang terlalu keras sehingga bola melambung tinggi ke arah kelas XII A1. Tiba-tiba, PRAAAAANG!!! Terdengar suara kaca yang pecah. Mendengar suara itu, semua orang bergegas pulang. Ya, orang-orang yang bermain bola, anak-anak pramuka, dan Jimron yang sedang piket langsung pulang meninggalkan sekolah tersebut, tidak ingin disalahkan karena memecahkan kaca jendela itu. Kepala sekolah mereka tidak pernah mau tahu siapa yang bersalah, siapa pun yang ada di tempat kejadian haruslah bertanggung jawab mengganti kerusakan.

Setelah semuanya telah pulang, adzan Maghrib pun berkumandang dan pintu gerbang sekolah ditutup. Tidak ada lagi yang boleh masuk ke sekolah.

— — — — —

Keesokan paginya di SMA Sang Pemimpi, tampak banyak orang berkumpul di depan kelas XII A1. Arai, Ikal, dan Jimron juga ikut berkumpul. Pecahan-pecahan kaca berserakan di luar kelas. Ya, karena kejadian kemarin. Tidak jauh dari pecahan kaca itu ada sebuah bola milik anak-anak sepak bola.

“Siapa yang telah memecahkan kaca jendela kelas kita? Orang itu harus menggantinya,” kata Alika.

“Kata penjaga sekolah, kemarin anak-anak sepak bola dan pramuka masih berada di lapangan hingga Maghrib. Jimron juga masih di dalam kelas ketika itu,” kata Syamsul.

“Arai, Ikal, dan Jimron! Kalian bertiga pasti tahu kan siapa yang memecahkannya?” tanya Bagas.

“Kami tidak tahu,” jawab mereka bertiga serempak.

“Bola ini? Bukankah ini milikmu, Arai?” tanya Denny.

“Benar, itu bola milikku. Tetapi, bukan aku yang memecahkan kaca jendela kelas kita. Percayalah,” jawab Arai.

“Kalau bukan kau, siapa lagi? Apa ada hal lain di sekitar sini yang bisa memecahkan kaca jendela selain bola ini?” tanya Bagas.

Zakia Nurmala baru saja datang. Melihat orang berkumpul di depan kelasnya, ia pun segera berlari, ingin tahu apa yang sedang terjadi.

“Ada apa ini? Mengapa semuanya berkumpul?” tanya Zakia Nurmala.

“Kaca jendela kelas kita pecah. Kata penjaga sekolah, anak-anak pramuka dan sepak bola masih di lapangan hingga Maghrib. Jimron juga masih piket ketika itu. Sekolah kita ditutup ketika Maghrib. Jadi, mereka adalah orang-orang terakhir yang ada di sekolah kemarin dan mereka pasti tahu siapa yang memecahkannya. Tetapi, tidak seorang pun di antara Arai, Ikal, dan Jimron yang mau mengaku,” terang Bagas kepada Zakia Nurmala.

“Oh, jadi begitu. Mana ada penjahat yang mau mengaku,” kata Zakia Nurmala.

“Bola milik Arai ada di dekat pecahan kaca. Jadi, sudah jelas kalau bola ini yang membuat kacanya pecah. Pasti Arai yang memecahkannya,” kata Syamsul.

“Hmm, aku pikir bukan dia pelakunya,” kata Zakia Nurmala.

“Memangnya kamu tahu siapa pelakunya?” tanya Alika.

“Jelas dong. Masa’ kalian nggak sadar, sih?” kata Zakia Nurmala.

— — — — —

Ternyata Zakia Nurmala sudah tahu siapa pelakunya. Mengapa Zakia Nurmala berpikir kalau bukan Arai pelakunya? Jadi, siapakah pelakunya? Jangan lupa berikan alasannya, ya (^_^)

Catatan: Semua tokoh, nama tokoh, watak, dan kejadian di atas hanyalah rekayasa. Jika ada kesamaan dengan kejadian yang asli, kami mohon maaf karena kami tidak berniat untuk menulis ulang kejadian tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s